Asal Mula Bank

1. Tahap Prastadium atau embrional. Pada tingkat ini, muncul penitipan uang di kuil, bukan dengan tujuan menabung, melainkan karena tempatnya dipandang aman untuk menghindari resiko pencurian atau perampokan. Misalkan, terjadi peminjaman oleh penjaga kuil, bukan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bunga, tapi semata-mata untuk menolong. Hal ini terjadi di kuil, daerah Babylonia sejak tahun 2000 SM. Selain itu, terjadi pula usaha tukar-menukar uang untuk melayani kebutuhan para pedagang dan orang-orang yang melakukan perjalanan akan berbagai jenis mata uang.

2. Tahap kedua adalah penerimaan dan pemberian kredit. Usaha bank yang menonjol pada zaman Babylonia kuno adalah Igibi Bank, dan bekembang pesat pada abat ke-6 SM. Bank ini bukan saja melakukan jual-beli mata uang, tetapi juga menerima simpanan dan memberikan kredit dengan motif mencari untung. Usaha ini kemudian lebih berkembang di Yunani. Kuil-kuil di Yunani pada abad ke-4 SM juga melakukan fungsi seperti yang terjadi Di Babylonia. Akan tetapi kedudukan kuil-kuil segera terdesak oleh badan-badan yang dikuasai oleh negara dan usaha swasta. Negara-negara di Yunani yang banyak jumlahnya itu masing-masing mempunyai mata uang tersendiri. Oleh karena itulah muncul usaha tukar-menukar uang.

3. Tahap ketiga adalah munculnya fasilitas transaksi pembayaran. Kemajuan perdagangan menimbulkan perkembangan baru dalam alat pembayaran, yaitu berupa wesel, walaupun belum dapat dipindahtangankan. Bank juga berfungsi sebagai clearing house. Kemajuan yang sangat menonjol adalah lahirnya jenis simpanna giro dan pembayaran dengan pemindahbukuan.

4. Dalam tahap kempat tampak 2 kejadian yang penting. Pertama, adanya penciptaan tenaga kerja baru oleh goldsmith bankers. Kedua, lahirnya bank sentral dan bank-bank lainya. Di prancis pada tahun 1716 berdiri Bangue General, yang merupakan bank deposito dan berhak mengeluarkan uang kertas bank. Akan tetapi, pada tahun 1718 digantikan oleh Banque Royale. Dan digantikan lagi pada tahun 1800 denngan nama Banque de France karena inflasi.

Berbeda dengan Eropa daratan, lembaga keuangan di Inggris selama abad pertengahan tidak menampakan perkembangan yang berarti. Pada masa pemerintahan Raja Tudor (abad ke 15-16), terjadi perkembangan pesat dalam perdagangan dan akumulasi modal. Hal ini menimbulkan perkembangan lembaga keuangan dan sarananya. Para tukang emas (goldsmiths) menjadi pelopor perkembangan di Inggris. Semua tukang emas itu, menerima simpanan biasa, baik dalam wujud logam mulia batangan (bullion), maupun berupa uang. Sebagai tanda bukti kepada deposan diberikan goldsmith’s notes.

Tukang emas mulai neninjamkan uang, semata-mata berdasarkan kemampuan kekayaan mereka sandiri. Ketika Parlemen Inggris menolak anggaran militer raja Charles (1625-1649), raja menyita logam mulia para pedagang yang disinpan pada percetakan uang. Karena kejadian ini, para saudagar berusaha mencari tempat pnyimpan yang baru yaitu tukang emas yang mempunyai tempat penyimpanan yang lebih aman. Pada abad ke 17, goldsmith’s notes telah beredar sebagai alat pembayaran. Hampir semua transaksi dagang dilakukan dengan mengguanakn goldsmith’s notes. Karena itu, para tukang emas meningkatkan usahanya dengan memberikan pinjaman. Dengan  semakin mengkatkan permintaan kredit, mereka memberikan kredit dengan mengeluarkan goldsmith’s notes tanpa didukung oleh simpanan. Cara inilah yang menjadi cikal bakal cadangan pecahan (fractional reserve) dari perbankan di Inggris

Dalam perkembangan selanjutnya, banyak goldsmith banker mengalami kerugian, karena pinjamannya kepada Charles II. Sementara itu, dengan meningkatnya aktivitas perdagangan pada pertengahan kedua abad ke-18, pendirian bank nasional semakin dirasakan urgensinya. Akhinya pada tahun 1684 lahirlah Bank of England, yang merupakan perseroan terbatas, dan terutama didukung oleh kaum niagawan dengan modal 1.200.000. Bank segera memperoleh hak istimewa dari raja untuk mengelurkan uang kertas bank. Sebagai imbalan, raja mendapat pinjamanan dari bank dengan bunga 8% setahun.

   Pendirian bank ini, menimbulkan reaksi keras dari goldsmith bankers. Mereka merasa disaingi dalam peredaran uang kertas dan menurunnya tingkat bunga dengan adanya operasi dari Bank of England. Akhirnya Goldsmith bankers menciptakan sarana keungan yang baru, yang disebut cek. Dengan cek para pedagang dapat menarik simpana gironya setiap saat atau melakukan  pembayaran pada pihak lain. Pada abad ke-18, mereka tidak lagi mengelurakan uang kertas tanpa menghentikan uasahanya, malahan menduduki posisi yang baru sebagai bank umum. Bank-bank yang muncul belakangan di negara-negara lain pada dasarnya tinggal mengikuti proses dan pola yang ada.

Published in: on 23 Februari 2010 at 12:42 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://khair2120.wordpress.com/2010/02/23/asal-mula-bank/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: