PERDEBATAN – TRANSLASI MATA UANG ASING KE-II

Perdebatan yang dimaksud adalah FAS No. 52. FAS No. 52 merupakan salah satu rancangan untuk menenangkan kritik terhadap FAS No. 8. Terdapat buki empiris terbaru yang menunjukan dukungan terhadap FAS No. 52. Isu baru menimbulkan kontroversi yang baru dan bagian berikut ini membahas beberapa diantaranya:
1. Sudut Pandang Pelaporan
Ketika menggunakan isilah uang fungsional, FAS No. 52 mengakomodasi baik sudut pandang pelaporan local maupun induk perusahaan dalam laporan keuangan konsolidasi . timbulah beberapa pertanyaan :
a. Apakah pembaca laporan keuangan dilayanani dengan baik melalui penggabungan dua sudut pandangan pelaporan yang berbeda dan dengan demikian 2 kerangka mata uang yang berbeda dalam satu set laporan keuangan konsolidasi?
b. Apakah terdapat perbedaan dalam substansi antara penyesuaian translasi yang berasal dari metode temporal dengan penyesuaian translasi yang berasal dari metode kurs kini?
c. Jika tidak, apa terdapat manfaat dari melakukan pengungkapan atas beberapa penyesuaian translasi dalam laba dan beberapa dalam ekuitas pemegang saham?
d. Apakah konsep unit pengukuran tunggal dalam FAS No.8 ( mata uang induk uang perusahan) tidak terlalu buruk dibandingkan dengan yang lain?
e. Haruskah kita menghentikan proses translasi laporan keuangan dalam mata uang asing seketika?
Dengan melakukan hal ini maka dapat dihindari banyak kerugian yang terkait dengan metode translasi kini, termasuk masalah penggabungan lebih dari satu sudut pandang dalam hasil translasi.
Juga disebutkan bahwa FAS No.52 tidak konsisten dengan teori konsolidasi, yang bermaksud untuk menunjukan laporan induk suatu perusahaan dan anak-anak perusahaannya seakan-akan kelompok usaha tersebut beroperasi sebagai satu perusahaan tunggal. Namun, anak perusahaan dengan mata uang fungsiona adalah mata uang relative independen dari induk perusahaan. Jika perusahaan multinasional tidak beroperasi sebagai satu perusahaan tunggal, lalu mengapa kita mengonsolidasi bagian-bagian independen.

2. Apa yang terjadi dengan Biaya Historis?
Melakukan translasi suatu saldo yang diukur berdasarkan biaya historis dengan kurs nilai tukar kini akan menghasilkan jumlah dolar AS yang bukan biaya historis pos tersebut ataupun ekuivalen nilai terkininya. Jumlah yang ditranslasikan tersebut bertentangan dengan deskripsi teori. Biaya historis merupakan dasar GAAP AS dan kebanyakan aktiva luar negeri dari kebanyakan perusahaan multinasional memiliki pengukuran biaya historis.
Namun metode kurs kini merupakan metode yang digunakan dalam translasi apabila mata uang local dianggap sebagai mata uang fungsional. Bahkan jika para pengguna laporan keuangan masih dapat memahami esensi jumlah-jumlah konsolidasi, masih saja timbul ketidaksinambungan teori.

3. Konsep Laba
Berdasarkan FAS No.52 penyesuaian yang timbul dari translasi laporan keuangan dalam mata uang asing dan dari translasi beberapa transaksi langsung dilaporkan dalam ekuitas pemegang saham, sehingga tidak melalui laporan laba rugi. Tujuan pelaporan ini kelihatannya adalah agar para pembaca laporan keuangan mendapatkan angka laba yang lebih akurat dan tidak terlalu membingungkan.
Namun demikian beberapa pihak tidak menyukai gagasan untuk mengubur penyesuaian translasi yang sebelumnya harus diungkapkan. Mereka memiliki ketakutan kalau-kalau para pembaca mengalami kebingungan yang disebabkan pengaruh fluktuasi kurs nilai tukar terhadap kekayaan perusahaan.

4. Laba Terkelolah
FAS No. 52 memberi kesempatan untuk mengelolah laba. Sebagai contoh suatu anak perusahaan asing mungin memiliki beban yang terjadi dalam mata uang local dan melakukan penjualan utamanya dilingkungan local dengan donominasi dalam mata uang local. Keadaan ini akan cenderung menetapkan mata uang local sebagai mata uang fungsional. Namun, operasi yang sama mungkin didanai seluruhnya oleh induk perusahaandimana terdapat arus kas yang dibayarkan kembali kepada induk perusahaan.

Oleh karenanya, mata uang induk perusahaan dapat ditetapkan sebagai mata uang fungsional. Hasil yang mungkin berbeda dalam penentuan mata uang fungsional mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Exxon Mobil Oil memilih maya uang local sebagai mata uang fungsional untuk kebanyakan operasi asingnya, sementara Chevron-Texaco dan Unocal memilih dolar. Apabila terjadi pertentangan antara criteria penetuan, dan pilihan yang diambil menentukan hasil pelaporan secara signifikan, maka terdapatkan kesempatan untuk melakukan menajemen laba.
SUMBER
Choi D.S. Frederick & Meek K. Gary. 2005. AKUNTANSI INTERNASIONAL, EDISI 5 BUKU 1. Jakarta : Salemba Empat.

Published in: on 26 Maret 2011 at 3:01 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://khair2120.wordpress.com/2011/03/26/perdebatan-%e2%80%93-translasi-mata-uang-asing-ke-ii/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: